Rabu, Desember 28, 2011

(SekaLi lagi) Untuk Mas yang ku sebut Senja

Maaf... tak bisa ku tepati janjiku untuk datang Minggu ini (tiketnya abis mas). 
Kepulanganku jangan di nanti lagi ya, aku takut kamu lelah menanti..
Aku juga tidak akan merancang lagi pertemuan untuk kita, biar saja berjalan seperti adanya. 
Ga usah di atur-atur...

Selasa, Desember 27, 2011

Desember wishes.....

Semoga kelak, kau akan menemukan belahan jiwa yang akan melengkapimu menjadi utuh.. dan membuatmu bahagia. sebab akan ada seseorang yang akan bahagia melihatmu bahagia dan akan sedih melihatmu sedih.. dan seseorang itu, ku rasa kau tau...

*Untukmu blue....*

27 Desember' mu

Kamu...
sekejap mendekat
sekejap menjauh
sejenak ada lalu tiada

Mungkin seperti itulah kamu saat ini. Aku tau ini salahku, jadi aku tidak akan lagi memprotes hal itu, FAJAR...
Oya.. hari ini hari ulang tahunmu yg ke-24. bagaimana perasaanmu? bahagiakah? atau justru sedih karna tidak ada aku?. *semoga saja tidak..
Kau tau, sebenarnya aku sudah menyiapkan kado terindah untukmu. Jangan berpikir ini tentang barang mahal, atau apapun itu. aku menyiapkan seutuhnya hatiku untukku berikan padamu hari ini, sebagai kado di 24'mu. Tapi rupanya Tuhan belum mengijinkan aku memberikannya untukmu, kau justru memilih pergi disaat aku benar2 yakin akan memberikan seluruh hatiku untukmu.
Tapi ya sudahlah.. mungkin benar katamu, jika kau teruss bersamaku kau pasti akan merasakan sakit yang tak pernah ada ujungnya.

"Untuk 27 Desembermu... aku tidak tau cinta macam apa lagi yang harus ku berikan padamu. yang jelas mulai saat ini aku tidak akan mengusikmu lagi dalam bentuk apapun.. " Bahagia ya... :)

Selasa, Desember 20, 2011

Hadiah donk

Gak terasa, bulan depan aku ULTAH.. hihihiii...
Apa kamu tau, tidak ada hadiah yang lebih ku inginkan kecuali ini...
"bertemu denganmu (lagi)"

Akankah aku dapatkan hadiah yang paling aku inginkan ini di 21 Q?? . 
Ya Tuhaan...
Semoga bisa... :-)

Kehilanganmu lagi

Bagaimana kabarmu? sejenak kita seperti asing ya?.....
Ini sudah lebih dari 48jam kamu tidak menghubungiku seperti biasa ( terlalu lebay, baru 2 hari )
Tapi walau 2 hari, rasanya amat sangat berat menjalani hari tanpamu.
Memang, keberadaanmu selalu semu. Tapi sungguh, betapa kalimat singkat yang kau kirimkan lewat SMS yang sering ku bilang pelit itu mampu membuatku tenang...
Bagaimana tidak, dengan kita yang tak sesederhana dulu, yang kini ada tambahan jarak ratusan kilometer, sebuah SMS saja mampu membunuh rindu-rindu kecil yang terus menganak pinah.

Ahh kau tau, aku tidak akan memprotes kepergianmu. Karna bagaimanapun perginya kamu adalah murni seratus persen salahku. Salahku yang terus menghadirkan dia diantara kita. Walau sekeras apapun aku meyakinkanmu bahwa seluruh bagian dari hatiku masih utuh buatmu, sekeras itu juga kau menolak penjelasanku. Aku tidak menyalahkanmu untuk itu... 

Yang aku tau sekarang aku adalah bilangan kosong dalam catatan jurnalmu yang telah berlalu...sudah kau tutup jurnal-jurnal itu. Dan kemungkinan akan ada data nama lain dalam jurnal barumu.. ( curiga lagi ). 

Dan sudahlah.. aku mulai akan berpikir lebih rasional.. dengan mengatakan bahwa :
" Tak perlu saling menghapus air mata untuk sebuah kepergian. Kita hanya perlu tertawa
Menyimpan nya dalam kenang-kenangan yang akan kita rindukan
dan lusa ketika masa membawa sebentuk pertemuan
kita bisa kembali berpelukan tanpa pernah mengingat perihnya ucapan selamat tinggal"
(Entah sebagai apa tentunya... )

MuLai Menulis Lagi

Aku selalu bingung memilih kata yang terbaik untuk mengawali tulisanku. Aku selalu merasa buntu ketika tak ku temukan kalimat awal yang tepat, selalu begitu.. Mungkin itu sebabnya kenapa aku berhenti menulis akhir-akhir ini ( yah,,, walaupun itu salah satu alasan kecil dari sekian banyak alasan lainnya). Tapi malam ini aku ingin melepas rinduku untuk menulis. Entah sudah berapa lama aku tidak memberanikan diriku mengawali sebuah tulisan, mungkin aku terlalu sibuk, atau mungkin aku terlalu pengecut??.. Ahh, biarlah.. malam ini aku akan kembali menulis. Biar juga lah... kebingunganku menemukan kalimat awal untuk tulisanku malam ini justru kugunakan untuk mengawalinya.... (dengan sedikit keringat dingin, bingung nglanjutin nulis apa). 

Selama aku tidak menulis, aku merasa jiwaku beku. Kebekuan yang teramat, bahkan itu berpengaruh pada caraku mengahadapi masalah. Dulu ketika aku masih rajin menulis, rasanya setiap beban yang ku tanggung lebih terasa ringan. Berbeda jauh dengan saat aku terlalu malas menulis, aku merasa tidak ada tempat untukku sedikit berbagi beban. aku merasa lemah, merasa sendiri, dan merasa yang lain-lain yang aku sendiri bingung apa namanya.

Malam ini ditemani rangkaian semangat dari sang FAJAR, aku meyakinkan diri dan membulatkan tekad untuk terus belajar dan belajar mengembangkan hobby menulisku. Bismillah.... semoga aku bisa...

*Terimakasih untuk mas Zombie yang udah bangkitin semangatku.... :-)


Jumat, Juli 29, 2011

Karna kamulah FajarQ....

Malam ini secara sengaja aku membaca tulisan-tulisanmu yang kamu simpan di laptop milikmu. Tulisa-tulisan yang lebih sering menjadi teman dekatmu akhir-akhir ini. Dimana kamu bisa meluapkan semua perasaanmu padanya, bahkan aku merasa iri karna justru dia yang lebih dulu tau tentang isi hatimu. Ahh.. aku memang suka menulis, tapi baru kali ini aku iri pada sebuah tulisan..

Aku ingat betul apa yang ku baca tadi, hanya saja aku lupa kapan kamu menulisnya. Yang aku tau, ada banyak hal yang kamu ingin sampaikan padaku, hanya saja tak pernah sampai di telingaku. Tapi kamu tenang saja, malam ini mataku telah berhasil mengantarkan isi hatimu untuk masuk ke dalam hatiku.

Kamu bilang kamu iri padanya, laki-laki yang ku sebut SENJA. Kamu iri akan keindahannya, karna telah membuatku mau berlama-lama bersamanya. SENJA memang indah.... sangat indah, bahkan hampir semua orang menyukai SENJA. Keindahannya mampu mentramkan hati orang yang melihatnya, hingga banyak yang rela menunggu ia hadir, termasuk aku. Kamu tau, aku begitu mengagumi SENJA, aku begitu menginginkjan SENJA.. Tapi SENJA terlalu jauh untukku. Aku hanya setetes embun, iya ... setetes embun yang entah dapat bertahan atau tidak untuk bisa menikmati keindahan senja. Aku sang embun yang mulai putus asa karna tak pernah mampu benar2 menikmati ketentraman yang diberikan oleh SENJA. SENJA buatku hanya keindahan semu, ia tak pernah mau mengiringi kehadiranku. Bahkan dia terlalu angkuh untuk menatapku yang hanya setetes embun. Memang, SENJAku pernah benar-benar menjadi penyemangat untukku.. bahkan dia tak pernah lelah berjuang merebut hatiku, DULU... ya, hanya DULU...Lalu masihkah kau cemburu dengan hanya sesosok kata DULU. Kalaupun ia masih hadir di hidupku sekarang, tentu saja perannya sudah jauh berbeda dengan DULU. karna aku sadar, Embun tidak pernah membutuhkan SENJA, ....

Kau tau, sejak kehadiranmu aku justru membuka mata lebar-lebar. Bahwa masih ada keindahan lain yang tak kalah indah dari SENJA. Kamulah FAJAR'ku.. bukankah FAJAR akan lebih dekat dengan EMBUN, bukan kan FAJAR akan selalu setia mengiringi kehadiran EMBUN di pagi hari, dan bukankah FAJAR dan EMBUN akan selalu bersama-sama sampai Sang Pencipta yang berkehendak memisahkan mereka.

Buatku FAJAR adalah keindahan yang teramat istimewa yang Tuhan ciptakan untuk dinikmati orang-orang pilihan yang juga istimewa di mata Tuhan. Kau tau, hanya sedikit orang yang bisa menikamati keindahan FAJAR, hanya orang-orang yang benar-benar haus akan ketenangan sementara orang-orang yang lain sedang terbuai dengan mimpinya. Karna FAJAR hanya untuk orang-orang pilihan, ku harap aku termasuk orang-orang pilihan itu. Kamu FAJAR'ku, kamu laki-laki SEMBURAT FAJAR'ku... Laki-laki yang akan selalu menemaniku, mengiringiku, menjagaku, dan yang selalu bersamaku. Aku tidak butuh SENJA, sekali lagi aku tidak butuh SENJA..

Sebenarnya ada yang lain yang ku baca tadi, kira-kira seperti ini..
"jangan kamu khianati aku lagi, jika tidak ingin KEHILANGAN SEGALANYA dariku"
Apa kamu setega itu?? membiarkan aku sendiri...... Tapi jika sampai dimana LELAH'mu tak mampu lagi kau tahan dan kau ingin meninggalkanku, silahkan... 

Semoga kau menemukan embun-embun lain yang lebih jernih dan lebih berarti ketimbang aku. Hanya saja aku yakin, selama kamu masih merasakan sakit hati yang disebabkan oleh aku .. itu berarti aku masih ada di hatimu,, DI HATIMU..... 

"Ku mencintaimu lebih dari nyawaku
Bahagia kau pun dengan cintaku
Sepakat mengikat janji untuk saling melengkapi
Bagai fajar menjemput sang embun pagi"
(nukilan lirik lagu, kangen band )

Selasa, Juli 26, 2011

"untuk Mas yang ku sebut senja"


Maafkan aku. 
Cintaku bisa kusimpan untukmu selamanya. 
Tapi aku tidak bisa menolak kehadiran orang lain di hatiku. 
Bersamanya, aku merasa hidup kembali. 
Dia begitu gigih membangunkanku dari tidur panjang. 
Tidur dalam tanpa kutip tentu saja.

Apa kau inginmemakiku?
Silahkan saja mas...
Kau seharusnya tau, Cintaku untukmu sebenarnya amat besar
hanya simphoninya terbatas waktu dan terhalang jarak..
Kau mengerti maksudku mas....
Aku bukan tidak mau melepaskan masalalu. Aku hanya butuh waktu, hanya waktu. Tidak, tentu saja kau salah jika menganggap masalaluku hanya akan menyakitiku. Kau seharusnya tau, atau jika tidak tau seharusnya kau berusaha menyelidiki. Jika memang menurutmu masalaluku hanya kan menyakitiku, mengapa aku masih saja mempertahankan semua itu. Apa kau tidak pernah berfikir kenapa aku mempertahankannya? Jelas saja karena semua memang INDAH, dan bukannya menyakitkan seperti katamu ..
Tuhan....
Kenapa keadaan ini justru berbalik,
bukankah seharusnya dia yang berhak atas aku?
dan bukannya seseorang yang belum lama ini mengusik tempatnya di hatiku?

Tuhan..
Kenapa justru saat ini dia yang seolah-olah bersalah,
dia yang seolah menjadi pengganggu, 
padahal jelas sebelumnya, dialah yang lebih berhak atas hatiku..

Tuhan..
Arahkan aku lagi di tempat seharusnya aku berada,,
tolong posisikan hatiku di tempat yang tepat...
Jangan lagi Kau biarkan aku menyakiti mereka Tuhan....
Amin......

Terjadi lagi

Lagi-lagi seperti ini. Kau mengacuhkanku yang tepat berada di belakangmu malam ini, apa ocehanku sepanjang jalan tadi sama sekali tidak menggugah minatmu untuk kembali bercengkerama denganku seperti tadi, saat pertama kau mengajakku pergi.. Apa alasan kau diam masih tetap sama? karena dia? Apa dia masih menjadi masalah buat kita? Oh, BUKAN.. masalah buatmu tepatnya. Sampai kapan keadaan sperti ini akan terjadi.

Sayang, aku mengerti.. amat mengerti rasa cemburu dan sakit hatimu itu. Sungguh, aku tidak menyalahkan sikapmu. Hanya saja aku ingin membocorkan sedikit tentang apa yg kurasakan atas sikapmu itu. Semakin hari aku semakin merasa terkekang olehmu. Dan jujur, kenyamanan yang selama ini aku dapat darimu jelas dan nyata-nyata berkurang.

Apa kau tau, sikapmu yang seperti ini membuat aQ tersiksa. Aku tak lagi bisa merasakan kebahagiaan seperti yang pernah kamu berikan selama ini. Aku tidak memintamu untuk mengerti, karna aku sendiri tau... Kau pasti masih saja menyalahkan dia atas semua ini. Sekali lagi, disni akulah yang salah. 

Apa lebih baik aku mundur darimu, dan hidup dengan bayang-bayangnya saja? Jelas aku akan lebih tenang jika seperti itu, dimana kau dan dia sama-sama tak ada yang bisa memilikiku. Apa seperti itu yang kamu mau?????

Senin, Juli 25, 2011

❝Diakah Masalah kita??❞

Aku tersinggung ketika kamu mengatakan dialah masalah kita. Ada rasa tidak terima dalam hatiku. Bahkan aku sangat ingin memakimu sore itu, kenapa harus dia yang kau jadikan kambing hitam atas pertengkaran kita? bahkan atas sakit hati yang telah mampu mengalirkan sungai di matamu sore itu. Mengapa tak kau persalahkan saja aku!! Ya.. karna memang aku penyebab rumitnya kisah ini. Aku yang salah, karna tak pernah mampu memposisikan hatiku untuk benar-benar berdiri di hatimu, atau hatinya. Dan memang harus ku akui, meski kau dan aku begitu dekat (bahkan tak berjarak), tapi jauh di dalam ruang-ruang hatiku yang lain masih penuh sesak oleh cintanya. Cintanya yang tak pernah bisa di hapuskan oleh siapapun, termasuk kau...

Maafkan aku jika aku keliru menuangkan satu-persatu bahasa hatiku disini. Jika aku melukaimu lewat tulisan ini, dan jika lagi-lagi aku membuatmu merasa tersakiti olehku. Akupun merasa amat sangat terluka oleh sikapmu sore itu. Andai saja Aku di ijinkan mengerti kemauanmu, pastilah aku rela kau memintaku tak menghubunginya lagi. Tapi apa kau tau, permintaanmu sangat menyakitiku. Kau membunuhku perlahan...

Memang, sore itu aku menyanggupi dan bahkan berjanji untuk tak lagi berhubungan dengannya. Tapi apa kau tau, hatiku menjerit , sakiitttt.. Kenapa kau memaksaku, apa keegoisanmu memilikiku seutuhnya yang membuatmu berubah seperti ini.

Aku tidak setuju jika kau menyebut dia masalah untuk kita, aku amat tidak rela kau menyebutnya seperti itu. Karna memang semua bukan salahnya, semua salahku. Bahkan dalam hal ini, sebenarnya dialah yang paling terlua. Kau memang belum memahami keadaan yang sebenarnya, antara aku dan dia. Karna kau datang di saat aku masih bersamanya. Lalu pantaskah dia kau sebut masalah????????????

Melelahkan.....

Mungkin kamu tidak tahu, disaat kamu terbaring nyaman diatas pembaringanmu. Aku disini masih sedikit-demi sedikit mengingatmu. Perlahan-lahan batin dan ragaku terhenyak. Semua kejadian itu terlalu cepat.
Terlalu cepat terjadi.
Tapi juga terlalu bepat berakhir.
Senyumku tersungging menggantung.
Membaca tiap gram pesan-pesanmu selama ini. Kok, sepertinya tidak pernah ada artinya. Untukku dan untukmu.
Semuanya berjalan seirama dengan detak jantung kita. Namun jalan yang kita lalui teramat jauh bedanya.

Kamu mestinya memahami betul. Tak pernah ada permainan dalam cinta. Syahdunya mungkin terbatas waktu. Tapi tak pernah ada permainan.

Aku teramat memahami, atas semua kejenuhan yang kamu alami, terhadapku, keadaan kita. Tapi mestinya, jujur adalah pintu satu-satunya.
Sehingga saat kita melihat rumah kita berantakan karena badai yang lewat, kita dapat membenahinya kembali lagi. Lalu memperkuat tiang-tiang kasih yang dulu bangun.

Tapi tampaknya kamu yg tak peduli.
Keputusan telah dibuat. Kita berpisah begini adanya. Aku menyesal. Dan aku malu.

Menyesal aku memisahkan diri darimu. Meninggalkan rumah mungil masa depan kita yang beruntai asa.
Dan malu aku mengakui. Teramat aku jatuh dalam dasar rasamu. Yang membunuhku. Membuatku sulit mencinta lagi.

Tapi mungkin, aku yang belum terbiasa. Ditengah malam kurindukanmu. Tapi ditengah benderangnya bumi, kutepis jauh bayangmu. Melepasnya terbang. Dan aku, duduk bersimpuh dengan getir. Menanyakan pada dunia, akankah aku kuat menghadapinya.

Karena aku amat lelah.
Cukuplah untukku. Semuanya teramat jelas dan tepat. Hatiku kembali pada posisinya, tanpa pasangan. Dan dirimu bisa berlabuh pada pantai lainnya. Jangan mencoba berenang. Karena terlalu melelahkan.

Dan, jika suatu saat tiba-tiba kamu teringat aku. Tersenyumlah. Sebagaimana terekam memori kita yang tertawa bersama.

Maaf. Aku tak dapat menunggumu. Dan membiarkan hatiku terluka terus.
Aku harus beranjak. Darimu. Dan hidupmu.

Jumat, Juli 15, 2011

Untukmu...

Barisan kalimat ini tidak akan sampai kepadamu jika aku titipkan paka pos atau TIKI sekalipun, entah kenapa aku hanya mampu membubuhkan barisan bintang sebagai pengganti namamu, aku tak pernah sanggup menyebut namamu walau itu hanya melalui goresan tinta bahkan tanggalpun tak mampu aku tulis karena aku tak tahu sampai kapan aku bisa menulis kata yang cukup pantas untukmu.

Aku tak pernah bisa mendekripisikan fenomena apa yang terjadi dalam diriku, ratusan teori yang ku susun tak pernah bisa memberikan jawaban betapa suaramu saja mampu menghabisi kebaranianku:) Kalaupun Plato tidak membawa 1 rantingpun ketika dia berusaha mencari ranting terbaik karena dia merasa didepanya ada yang lebih baik untuk mendiskripsikan cinta tetapi aku tidak berani menyebut semuanya cinta meskipun aku yakin telah menemukan seseorang yang paling tepat untukku.

Yup aku tau sudah cukup alasan jika semua kalimatku seolah tak bermakna atau gombal, tetapi jujur aku tak mempunyai kalimat yang lebih baik dari semua ini, Jikalau memang ini cinta, biarlah menjadi cinta yang sesungguhnya bukan untuk menguasai tetapi memberikan harapan.
 
Dari
Aku yang akan tersenyum agar kau tersenyum
Aku yang akan menangis agar kau tersenyum

Kamis, Juli 14, 2011

Tiga yang selalu sesak

Bersamamu, aku bisa memiliki hubungan yang terarah. Mungkin aku akan lebih bisa mengontrol diriku menjadi sosok setenang kamu. Kamu mengajariku bagaimana agar aku bertahan dalam kepahitan hidupku. Kamu bahkan selalu mengada saat aku butuh, bahkan tanpa aku minta.

Tapi bersamanya aku merasakan gejolak yang meledak-ledak. Dia tak pernah selalu ada sepertimu , tapi ketiadaanya justru membuatku selalu dan selalu ingin merindukannya. Dia juga tidak pernah memperhatikanku seperti kamu memperhatikanku, dia membuatku selalu dan selalu harus berjuang untuk mendapatkan cintanya. Dan aku merasa lebih ekspresif bersamanya.

Seandainya aku tidak harus memilih antara kamu dan dia. Seandainya salah satu dari kalian yang memilih untuk pergi. Ku akui, hatiku tidak cukup luas untuk menampung cintamu dan cintanya...  Tiga memang selalu sesak...

Rabu, Juli 13, 2011

♥ ♥ ♥

Cintamu terlalu megah untuk ku tuliskan dalam secarik kertas sederhana, itu sebabnya aku sulit sekali menggambarkanmu dalam setiap tulisanku. kau ku sematkan di hatiku, juga di dalam doaku...◕‿◕

Jumat, Februari 04, 2011

♥Aku dan Pasukan PINOL'q♥

Dear kaLian.......

Aku senang sekali memiliki kalian. sekumpulan laki-laki tangguh dan wanita hebat yang ku kenal 1,5 tahun yang lalu.. Awalnya hanya senang bercengkrama, lama-lama kalian sudah menjadi sekumpulan manusia yang aku rindukan di setiap akhir minggu.. (Libur kuliah sii..).

Aku mungkin tidak bisa menafsirkan satu-satu guratan-guratan rindu yang sekarang ini sedang aku rasakan.Tentang kebosananku yang sudah 3hari ini tidak bertemu kalian. Padahal ikatan kita berawal cukup simple, hanya karena kita punya hobi yang sama "ngoPI, Nongkrong, and ngebanyOL.. PINOL mania ada.. 
Kalian tau? tiap kali dering ponsel'ku berbunyi dalam hati aku selalu berharap bahwa itu dari kalian. Walaupun isi SMS kalian kadang ga penting-penting amat, hehe- tapi tetep bikin aku ngakak.

Hi kalian sekumpulan manusia yang amat ku sayangi, terimakasih sudah mau jadi temanku. I'm grateful for this frienship..






 

Minggu, Januari 23, 2011

♥Senja di hatiku♥

"Ku tengadahkan wajahku yang pucat ke langit. Keadaan membuatku mematung seperti itu. Tanpa suara. Hanya kegetiran yang berdendang halus di setiap ruang-ruang hatiku. Aku wanita berteman sepi, sore ini mengiba pada senja yang menari indah di kanvas langit.."

Apa yang terjadi dengan hatiku, secepat kilat merenda butir-butir luka dari masa lalu. Semuanya berawal sejak ku temukan lagi jejak namamu yang memudar. Aku tak sengaja membuka catatan lama, dan menemukan dirimu dalam ejaan kata yang dulu sempat ku susun menjadi bahasa cinta.

Sepertinya masih jauh tanda-tanda jatuhnya setetes air di kelopak mataku. Tapi aku merasakan bahwa air mata itu ada, tersimpan di bagian tubuhku yang tak dapat kusentuh. Bahkan air mata itu ku titipkan pada batu tempat ku merebah sore itu, dan pada dedaunan sebagai pelindung tubuhku.

Aku sempat terluka, meski tak begitu menganga. Aku sakit, menyaksikan kembali drama penghianatan yang dulu sempat kau mainkan di atas cinta yg ku bangun dengan kepayahan. Ini sudah 4 tahun semenjak kau memilih pergi, tapi luka itu masih ada.

Ahhhh... Tidak! Aku tak pernah tersiksa dalam kesedihan. Justru dengan sedih itu aku merasa manisnya hidupan. Andai kau tahu makna kesedihan, mungkin tak cuma air mata yang kau harapkan, melainkan seluruh luka yang telah kau gores di tubuhku ini.
Langkah ini akan terus menapaki jalan tanpa henti, tanpa menoleh padamu. Oh, sedikit pun rasa ibaku tidak untukmu.

Dan di sini, di tempat yang tak pernah kau ketahui, aku petik damai keabadian. Selamat tinggal, . Aku tak ingin lagi di hantui olehmu, atau sekedar berpikir tentangmu. Cari sendiri dirimu. Dirimu tak ada dalam dirimu, jua tak ada di diriku, apalagi ada di hatiku yang kau lumat itu.

Sabtu, Januari 22, 2011

PERTEMUAN

Udara pagi kian sejuk membelai jilbab merah muda yang ku kenakan, aQ terjaga dari lena tidur yang ku paksakan sejak tengah malam tadi. Suara deru mesin kereta yang membawaku ke kotamu kian mendesirkan hati yang meradang membayangkan pertemuanku dengan mu. Aku sudah rindu, Enam bulan lamanya aku tak memahat senyum di bibir tipismu, melihat tajam tatapan mata elangmu, ahhh.. mungkinkah kau masih seperti dulu?.

Jam menunjukkan pukul 4 pagi, dan perjalananku berhenti disini. Aku telah sampai pada sebuah tempat dimana kereta yang membawaku berhenti. Ku lirik tulisan yang menggantung tinggi di atas sebuah pintu besar, "STASIUN KEBUMEN"... 
Ahh,, lega sekali rasanya. Aku segera mengemas barang-barangku dan segera turun dari kereta. Aku merasakan belaian angin kian memadati lekuk jilbabku. Aku menarik nafas panjang, merasakan kesejukan kota yang sudah lama ku tinggalkan.

teliteetuuutttt.......
Ponsel'q berbunyi, ada satu pesan masuk disana. segera kubuka , ternyata dari elangku.. laki-laki tertinggi yang ku tinggalkan di kota ini, lelaki dengan sinar mata tegas dan tajam bagai mata elang yang ku janjikan cinta sebelum ku pergi dulu..
"Dimana sayang? " pesanmu singkat,
belum sempat ku balas pesanmu dari jauh ku lihat sosokmu di antara puluhan orang di gerbang STASIUN.

Tanpa pikir panjang aku berlari ke arahmu, kau menyadari kehadiranku. Aku pun mengurangi kecepatan langkahku, mencoba menikmati senyummu dari jauh. Dan merasakan hati yang bergejolak hebat saat ku lihat kembali tatapanmu, Aku sudah hampir sampai di tempatmu berdiri. Hatiku semakin berdegup kencang, Mataku mulai nanar, menatapmu sendu bercampur bahagia. Airmata kerinduan tertumpah ketika kau sudah tepat dihadapanku.. 
Kau kembali tersenyum, menatapku dengan tajam. Aku tau kau sedang mencari gurat rindu di setiap lekuk wajahku... 
Kita bertatapan lama, tanpa saling menyapa. Ku lihat matamu berkaca, dan aku sangat bahagia melihat diriku ada disana.

"Selamat datang cinta..Selamat datang kembali di kota kita.."
Aku tersenyum mendengar ucapmu. 
tak tau apa yang harus ku katakan..
yang pasti....
"Aku merindukanmu, dan aku bahagia kini kau ada di depanku".


Aku takut Jatuh Cinta


Ya Allah......
Ini hamba-Mu yang penuh dosa,
datang mengetuk pintu-Mu untuk mengadu,
Betapa hinanya hamba yang hanya bisa mengeluh dan mengeluh pada-Mu..

Ya Rabb,
Saat ini hatiku begitu kalut,
secara tiba-tiba aku teringat sosok hamba-Mu 
yang datang sempurna dalam hari-hariku
Sosok yang menggetarkan hatiku, dan menumbuhkan benih cinta di hati ini.

Wahai Penguasa hatiku..
Aku tidak pernah ingin menghianati-Mu,
cinta kepada makhluk-Mu hanya membuat aku jauh dari-Mu,
maka bantulah hamba,
Untuk menampik rasa ini. 
Gantikanlah dengan rasa cinta yang hanya pada-Mu.
Aku takut jatuh cinta.....


"Di kedalaman hatiku tersembunyi harapan yang suci
Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat keshalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata



Sungguh walau kukelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan

Kalau memang kau pilihkan aku

Tunggu sampai aku datang nanti

Kubawa kau pergi kesyurga abadi


Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanku di batas waktu





Jumat, Januari 21, 2011

Gerimis Bersamamu

Dan saat gerimis itu turun, kita berteduh di bawah pohon cerry yang melambai di kelokan yang menjadi awal ke galauanku akan cintamu.
Aku tiba-tiba bertanya, "Kenapa gerimis datang saat matahari sedang senyum sumringah begini". Kau menjawab, tapi ku tahu itu jawaban sekenanya saja " Karna gerimis ingin kita berteduh dan menikmati kebersamaan lebih lama di hari ini". hahaa.. aku tertawa, meski hatiku mengiyakan argumen ngawuranmu. Hari itu seperti biasa kau menawarkan diri menjadi ojek  yang mengantarku pulang kuliah. Cuaca sebelumnya cerah, tapi sampai di parkiran mendadak gerimis turun.

Kita masih di bawah payung sebuah pohon cerry. Menunggu gerimis reda. Kau  dan aku tak ingin menyeberangi titik-titik air itu. Kau ingin berteduh dan menunggu. Menghitung gerimis yang malas. Atau angin yang benar-benar nyaris diam. 

Kini kulihat matamu mengembara, entah kepada kenang atau harapan, namun aku tak terletak di sana. Entah di mana aku siang itu pada dirimu. Kau menyandarkan tubuh pada batang pohon yang mulai lembab. Menggenggam pemantik dan memainkan percikan air.  Seperti ada sesuatu yang ingin kau  siram. Tapi entah apa.. Tiba-tiba kau menoleh, tersenyum. Aku melihat matamu meneduh, tapi masih belum ku temukan aku disana.

"Dingin?" tanyamu saat itu
"Engga, gerah banget malah... " Jawabku sedikit sewot,,
Kau meringis, dan melepas jaket abu-abumu dan menyerahkan padaku.
"pakai ini, kebiasaan sih. musim dingin tu bawa jaket"..
hmm.. Aku bergumam sambil menarik jaket itu dan mengenakannya di tubuhku. Ada sedikit kehangatan, maklum jaketmu kedodoran untuk ukuran tubuh mungilku.. 

 "Kau sepertinya merindukan sesuatu" pertanyaanku mengagetkanmu yang sedari tadi kembali memainkan percikan air gerimis.
Kau menoleh, menatapku dan terdiam. Aku beranikan diri membalas tatapanmu, kita saling tatap dalam keheningan diantara rinai gerimis siang itu..
" Sudahlah. Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita kali ini. Mungkin lebih pekat, karena tempat ini menyimpan beragam kenangan bagiku.” Kau berusaha tersenyum seperti ingin menyudahi percakapan dan kembali sama-sama hening dan sunyi.

Akhirnya gerimispun tinggal jejaknya, ”Kenangan apa?” ucapku sembari menarik lengan kemejamu. Aku tak ubahnya seperti anak manja yang merengek meminta jawaban atas pertanyaan kalut dihatiku. Iya, pertanyaan yang hadir sejak kau katakan kau memiliki banyak kenangan di tempat ini.

"Kenangan tentang sajak dari merpati yang melukai sayapnya untukku" kau pun menjawab sembari mengajakku untuk segera beranjak, karena gerimis tak lagi hadir.

Aku terpaksa beranjak dan mengikuti langkahmu. Meski masih banyak pertanyaan yang belum mendapat jawaban pasti. Aku bertanya2, dan aku menjawab sendiri. Mungkin kau tau gundahku saat itu. Kau menggandeng tanganku dan berkata.
"Kenangan itu mungkin menyala, tapi hari bersamamu sinarnya lebih terang. Kau yang ku genggam saat ini, maafkan aku untuk sekelebat rindu yang tadi hadir bukan untukmu".

Aku menghela nafas panjang, Ku biarkan cemburu yang memburu ini hilang. Tapi tetap saja sulit, aku hanya wanita yang tidak ingin berbagi meski hanya dengan sepotong kenangan.

Kau mengajakku mengenali gerimis siang ini, dan kau juga menghadirkan gerimis luka di hatiku.
 Karna bukan hanya aku yang ada di teduh sinar indah matamu.

Minggu, Januari 16, 2011

Januari 
yang sempat kunanti, sudah terlewat setengahnya.
Ahh.. Januari..
Maafkan aku karna ku ingin kau segera pergi...

Dan..........

Februari..............
Aku menantimu, aku sangat menantimu.
Kau yang akan menjadi saksi,
bertemunya kembali dua hati yang sekian lama berjauhan..

Ku istimewakan kau Februari....

2 tahun lalu

Ini cerita 2 tahun lalu, sejak Kau tersenyum padaku. Tanpa kutahu artinya. Tapi kutemukan diriku dalam senyum itu.
"Andai saja malam itu kau tak menghadiahiku senyuman, mungkin saat ini hariku akan biasa saja"

Aku mengirim seluruh rindu dari hutan hatiku untuk bersarang di setiap ruang hatimu, telah kususupkan seluruh cinta pada senyummu, telah kau dengar seluruhnya, sajak-sajakku kembali hidup. Di tanah lapang itu kusimpan seluruhnya, kata dan kalimat, cinta dan perjalanan. Telah kau reguk seluruh isinya. Kini kata-kata kembali mengalir dengan dirimu berdenyut di sajakku.” 

Kau berbicara dengan tenang dan pelan."Aku mencintaimu" bisikmu malam itu. Aku perlahan melayang dalam kata-katamu. Meninggalkan resah dengan sesuatu yang tak terkatakan. 

Ku tatap matamu lekat-lekat. Aku mencarinya, mungkin ada kebohongan di matamu. Tapi aku gagal, aku tidak menemukannya. Hanya sebuah pengharapan akan balasan cinta disana, aku ragu... Ku tau, kau mengerti keraguanku. Mungkin disini juga ada cinta, tapi saat itu kau tau disini pula telah tertanam cinta yang lain.
Kau berbalik menatapku, meyakinkanku! Meski tanpa kau ucap, aku yakin betul makna dari tatapanmu adalah kau ingin katakan bahwa cintamu lebih baik dari cintanya. Ahhh.. lagi-lagi aku menjadi seorang pembaca ngawuran sebuah tatapan.

Kau terdiam, hening... 
"Jika kau menginginkanku, kaitkan kelingking kananmu di kelingkingku. Tapi jika tidak, kaitkan kelingkingmu yang sebelah kiri".
Rupanya kau belum menyerah, kau menutup mata sambil berdebaran menanti kelingking mana yang akan ku pakai. Sebenarnya sampai saat ini aku masih belum tau kenapa kau memilih kelingking untuk meniadakan raguku.
Ahh tapi ku pikir itu tak penting, aku fokus melihat matamu terpejam, 
dan..............
Bismillah..
Ku kaitkan kelingking kananku, tanda aku membalas rasamu. Kau buka mata, dan kau kembali tersenyum.
"Terimakasih "..... katamu, dan aku mengangguk. Malam itu, 3 November 2008 kau dan aku sepakat untuk saling mencinta....

"Kau laki-laki yang datang dengan sempurna, menggetarkan setiap nadi yang ada di tubuhku. Sejak malam itu, hariku menjadi indah,bagai lukisan senja yang selama ini ku sukai. Terimakasih, ini sudah dua tahun sejak kau memilihku malam itu.. Dan aku bahagia, bisa menjadi senyummu. "

Apa siihh bingung dah

"Aku ingin menatapmu. Mencari-cari kerinduan di setiap lekuk garis wajahmu, serta dalam mata yang berhias sinar senja disana. Aku ingin menemuimu, menanyakan apa masih ada tempatku di hatimu. Sekali lagi, aku ingin bersamamu..."

Ahh.. aku tak berani menghitung, sudah berapa lama aku tak bertemu dengannya, "Laki-laki tertinggi yang pernah ku miliki, pemilik mata elang yang selalu tajam menatapku". Harus ku akui, sejak meninggalkannya dalam episode ini, banyak hari yang ku lewati dengan curiga curiga dan curiga.. Hoohh, sebenarnya tersiksa.. amat tersiksa!

*hey Januari..salahkah aku jika ingin kamu segera usai? ...
Aku ingin cepat pulang, menghantarkan rindu yang sudah jadi gunung es di hatiku. 

*Hey burung2.. kemarilah..
Aku titip pesan, sampaikan pada laki-laki harum gitar itu, "aku sangat merindukannya"


”Doa adalah penyatuan dengan-Nya. Sedang denganku akan utuh dengan sajak-sajakmu. Aku merindukan kata-katamu, terlebih jika diriku terdapat di dalamnya. Jangan membuat sajak untukku. Sebab itu hanya akan membuatmu kehilangan kata-kata. Jadikan aku kata-kata dalam sajakmu. Mungkin kau akan kembali menulis. Karena aku pun begitu.”


Minggu, Januari 09, 2011

Senjaku, malamku, gerimisku, itu kamu...



Sepertinya secara tidak sengaja, aku menganggapmu sebagai senja..
Dan terkadang ku jadikan kau sebagai malam,
serta tak jarang kau menjelma bagai gerimis..

Semua karna aku adalah penatap senja, penikmat malam, serta pecinta gerimis..
Semoga kau mengerti maksudku..
Cinta dalam diamku,
sudah ku beberkan pada pena merah muda itu..
Dengan pena, akan ku lukiskan keindahan senja di matamu,
ketenangan malam di hatimu,
kelembutan gerimis di setiap derai tawamu..
Dan melalui pena, akan ku taklukan setiap acuhmu..


Jika cinta bukan untukku, akan ku kejar hingga ia menjadi milikku. Kau salah satu cita-cita yang sangat ingin ku wujudkan.. "Laki-laki semburat fajar", ada mata pelangi yang menanti hadirmu.. Tatapanmu sempat menggetarkan hatiku, meski kemudian tertahan sejak kau memutuskan diam!. 



Kau tak Membalasnya,,


Memandang gerimis, saat senja di penantian. Aku menyukai senja, aku menyukai gerimis, begitu juga aku menyukaimu..

Laki-laki dengan sinar mata teduh di matamu, sampai hari ini aku belum mengerti hatimu. Saat dekat kau begitu memperhatikanku, tapi saat jauh kau sama sekali tidak peduli..

Ya sudahh, dengarkan saja. Aku merindukanmu, iya, aku merindukanmu. titik!

Sabtu, Januari 08, 2011

Nasehat Seorang Sahabat


Sahabatku...            
Janganlah kau cemberut saat merasa sedih, karena kau tidak tahu kapan seseorang suka pada senyummu. Mungkin bagi dunia kau hanyalah seseorang. Tapi bagi seseorang, mungkin kau adalah dunia. Maka nikmatilah rasa sedihmu, dengan berfikir positif dan memanfaatkan apa yang kau miliki dengan lebih baik lagi agar besok menjadi sesuatu yang berguna dan lebih berarti.


Sahabatku...
Jika sampai saat ini kau masih sendiri, menjadi manusia paling sepi, janganlah kau merasa terpuruk dan rendah diri. Lihatlah, bukankah jari-jemarimu dipisahkan oleh sela-sela kosong? Ya, karena Tuhan tahu, bahwa suatu saat pasti akan ada yang mengisi kekosongan itu, menggenggam erat jemarimu dan berkata : "Aku akan selalu menjagamu dan akan selalu ada untukmu..."

Sahabatku...
Tuhan terlalu bijak, sehingga Ia menciptakan seorang sahabat tanpa harga sepeser pun. Karena jika Tuhan mematok harga, sungguh, aku takkan pernah sanggup membeli sahabat berharga seperti dirimu. Di dunia ini tak ada sesuatu
yang sempurna, termasuk juga sahabatmu. Maka seburuk dan sebenci apa pun kau pada seseorang, berusahalah untuk meredamnya, lalu menasehatinya, karena bisa jadi saat sudah kau lepaskan, penyesalanmu menjadi sesuatu yang sia-sia. Ternyata begitu banyak kebaikan yang tidak kau lihat sebelumnya. Ternyata begitu banyak keindahan yang terlewat dan tak sempat kau nikmati bersamanya.

 
Sahabatku...
Setiap awal membuka mata, bersyukur adalah hal pertama yang harus kau lakukan, atas kehidupan yang telah memberikan kesempatan, atas keberadaan senyum dan semangat dari orang-orang yang menyayangi dan kau sayangi, serta atas keyakinan bahwa rentetan hari akan menjadi hari yang menakjubkan. Percayalah, hidup ini indah jika kita tahu bagaimana cara menjalaninya.

Sahabatku...
Tak ada yang lebih merindukan kita setulus kematian. Kita tidak bisa menjamin, 1 kali 24 jam setelah membaca goresan tak berarti ini, kita masih bisa bernafas. Maka Rasul pun bersabda : "Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu oleh keduanya: kesehatan dan kesempatan". Selagi masih ada kesempatan dan kesehatan, berbuatlah, karena sekecil apapun yang kau yakini kebenaranya, ia akan tetap memiliki makna.

Sahabatku...
Konon, hidup ini cuma sesaat, maka jadikan ia lebih bermanfaat. Jika air mata adalah beban, jadikan senyum sebagai penawarnya. Jangan katakan apa yang kau ketahui, tapi ketahuilah apa yang kau katakan. Orang seringkali menilai dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka ketahui. Jadikan dirimu senyuman bagi sesama dan buatlah mereka selalu bahagia bila bersamamu...
.

Sumber : 
http://www.buletinsunrise.co.cc

Kamis, Januari 06, 2011

Entahlah...

Ketika akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, dan sebuah perpisahan akan menjadi pertemuan dengan sesuatu yang baru.

Bukan hati ini tak sakit, bukan hati ini tak hancur, bukan juga aku tidak peduli akan diammu, ini hanya sebuah kepasrahan hati yang tumbuh atas dorongan rasa ingin membuatmu bahagia. Kau pun tau, ruang memisahkan cinta kita. Aku sungguh paham bagaiman hatimu disana, sepi, sendiri, hampa tiada cinta.. Sebab itu juga yang ku rasakan.

Sayang, sebelum ini kita begitu yakin akan kemampuan kita bertahan. Tapi begitu banyak sandungan yang melengkapi lika liku perjalanan cinta kita. Jujur aku mulai ragu, ragu apakah kita mampu bertahan. Kau tahu aku begitu menyayangimu, dan karna rasa itu pula hatiku terdorong untuk membebaskanmu dari hubungan yang ku tahu membosankan ini. Hubungan jarak jauh yang banyak menyita waktu dan hati kita.

Aku pun pasti akan merindukan saat-saat di mana diriku masih bisa berlindung di balik cintamu yang megah ini, ketika kelak aku harus berjuang sendiri, dengan tanggung jawabku sendiri. Sayang, diammu saat ini sungguh menyiksaku. Kau membuatku sakit ketika kau tak peduli dengan hari ulang tahun ku, hari spesial ku.. " kau tak ada.. kau masih dalam kemarahanmu." Sungguh, hal itu membuatku berpikir, benarkah ada cinta untukku?. Jika benar, mengapa tak sedikitpun kau berikan cintamu di hari itu, dimana cintamu saat itu? diamana kamu saat aku lelah menanti satu kata darimu, iyaaaa... hanya di hari itu. dan ku tahu , kau pasti mengerti bagaimana rasanya di cuekin pada hari spesial.

Kini biarlah kisah ini mengakir sini, keyakinanku tetap sama. Cinta akan tahu jalan pulang, Jika memang kau untukku, ku yakin kau kan hadir lagi menemaniku. Silahkan nikmati diammu saat ini, akupun akan menikmati keceriaan yang kubangun di atas hati yang rapuh ini..


Di Kedai Kopi, Semuanya Aneh

"Aku menemukannya, di antara gerimis luka yang mengguyur hatiku. Kurasa dia datang sebagai mentari, yang malu-malu bersinar saat gerimis itu turun.. Tapi meski malu-malu, dia berhasil menciptakan kembali Pelangi di senjaku yang mulai muram, memekarkan kembali hatiku yang hampir layu.... Tatapannya, mendorongku untuk mencari tau makna yang tersirat disana. Dan akupun harus jujur, "Aku menyukai matanya"

Sebenarnya aku tidak cukup tahu, apakah dia mengenalku sebagai perempuan yang mengaguminya atau tidak. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Ruang-ruang waktu telah memberi kami jeda dalam diam yang berkepanjangan.Matanya masih memancarkan sinar lembut yang meneduhkan, meski sampai saat ini aku belum mengerti arti tatapannya..

Dia duduk tepat di sampingku. Kedai itu sebenarnya tidak sepi, kami berada disana dengan kawan yang lain. Tapi entahlah, kedai seakan milik berdua, temanku ku anggap rumput yang melambai-lambai mengiringi keindahan senja di hatiku dan hatinya.
"Aku punya ini untukmu", dia membuka pembicaraan.
Aku menoleh perlahan ke arahnya, reaksi pertama tersenyum simpul. Setelah melihat apa yang di bawa, wajahku sumringah..
"Waaa... lucunyaa..." Sebuah boneka Little kitty ada di tangannya, aku bersorak kegirangan..
Rupanya dia memperhatikan keceriaanku, dia tersenyum sambil melirik ke arah rumpu-rumput yang sedang asyik memahami pembicaraan kami.. Sesekali ku dengar mereka terbahak melihat kekonyolan kami, Ahhh.. rumput yang aneh, pikirku;)

"Mengapa kau menatapku seperti itu? Sadarkah kau tatapanmu mebuatku mati gaya, apa yang ada disana?? Benarkah ada rasa berbeda yang ingin kau bagi denganku, bukan sekedar boneka little Kitty yang kau beri dikedai yang banyak rumput-rumput aneh ini?

Ahh, tapi ku rasa pertanyaan itu terlalu terburu-buru. Kucatat pertanyaanku itu di dalam hatiku saja. Aku benar-benar takut untuk bersuara terhadapnya. Cahaya matanya mulai menyilaukanku. Kami benar-benar terdiam dalam sepi yang berpesta dalam ruangan itu. Yah, meski sii rumput-rumput aneh itu masih saja menggodai kebisuan kami..

Lelaki dengan mata bercahaya teduh itu bergeser sedikit ke arahku, tiba-tiba dipalingkanwajahnya tepat di samping telingaku. Aku berbisik pada hatiku " Jangan menoleh, dia sedang begitu dekat". Benar saja, tiba-tiba tangannya mulai mendekat ke arahku, tepat di depanku. Secangkir kopi di hadapanku, di raih perlahan olehnya. Hahahaaa.. Aku tertawa terbahak menyembunyikan jengahku, diapun melirik sambil menjulurkan lidahnya, Wleeeeee... :P. Dan aku semakin terlarut dalam keanehan di kedai itu.

Aku benar-benar ingin dia selalu merinduiku. Meski untuk sebuah rindu yang entah. Mungkin aku telah melanggar aturan, karena hatiku sebenarnya masih terikat satu cinta resmi yang meski sudah tak berstempel kata bahagia. Tapi laki-laki dengan sinar teduh di matanya terus menatapku, meski lagi-lagi aku belum bisa membaca pesan di matanya.

Tapi aku bahagia hari ini...
"Teman-temanku, maaf jika disini ku sebut kalian rumput yang aneh.. haha, jangan marah ya..


”Aku menemukanmu pada sebuah ruang bernama sepi, kamu terus aku cari dan aku bahagia akhirnya aku menemukan sosok sepertimu
Mungkin kita bertemu di waktu yang tepat. Tapi kurasa di saat yang salah. Karna aku masih mencoba konsisten dengan cinta lamaku yang meski menghadirkan banyak leluka.