Minggu, Januari 23, 2011

♥Senja di hatiku♥

"Ku tengadahkan wajahku yang pucat ke langit. Keadaan membuatku mematung seperti itu. Tanpa suara. Hanya kegetiran yang berdendang halus di setiap ruang-ruang hatiku. Aku wanita berteman sepi, sore ini mengiba pada senja yang menari indah di kanvas langit.."

Apa yang terjadi dengan hatiku, secepat kilat merenda butir-butir luka dari masa lalu. Semuanya berawal sejak ku temukan lagi jejak namamu yang memudar. Aku tak sengaja membuka catatan lama, dan menemukan dirimu dalam ejaan kata yang dulu sempat ku susun menjadi bahasa cinta.

Sepertinya masih jauh tanda-tanda jatuhnya setetes air di kelopak mataku. Tapi aku merasakan bahwa air mata itu ada, tersimpan di bagian tubuhku yang tak dapat kusentuh. Bahkan air mata itu ku titipkan pada batu tempat ku merebah sore itu, dan pada dedaunan sebagai pelindung tubuhku.

Aku sempat terluka, meski tak begitu menganga. Aku sakit, menyaksikan kembali drama penghianatan yang dulu sempat kau mainkan di atas cinta yg ku bangun dengan kepayahan. Ini sudah 4 tahun semenjak kau memilih pergi, tapi luka itu masih ada.

Ahhhh... Tidak! Aku tak pernah tersiksa dalam kesedihan. Justru dengan sedih itu aku merasa manisnya hidupan. Andai kau tahu makna kesedihan, mungkin tak cuma air mata yang kau harapkan, melainkan seluruh luka yang telah kau gores di tubuhku ini.
Langkah ini akan terus menapaki jalan tanpa henti, tanpa menoleh padamu. Oh, sedikit pun rasa ibaku tidak untukmu.

Dan di sini, di tempat yang tak pernah kau ketahui, aku petik damai keabadian. Selamat tinggal, . Aku tak ingin lagi di hantui olehmu, atau sekedar berpikir tentangmu. Cari sendiri dirimu. Dirimu tak ada dalam dirimu, jua tak ada di diriku, apalagi ada di hatiku yang kau lumat itu.

Sabtu, Januari 22, 2011

PERTEMUAN

Udara pagi kian sejuk membelai jilbab merah muda yang ku kenakan, aQ terjaga dari lena tidur yang ku paksakan sejak tengah malam tadi. Suara deru mesin kereta yang membawaku ke kotamu kian mendesirkan hati yang meradang membayangkan pertemuanku dengan mu. Aku sudah rindu, Enam bulan lamanya aku tak memahat senyum di bibir tipismu, melihat tajam tatapan mata elangmu, ahhh.. mungkinkah kau masih seperti dulu?.

Jam menunjukkan pukul 4 pagi, dan perjalananku berhenti disini. Aku telah sampai pada sebuah tempat dimana kereta yang membawaku berhenti. Ku lirik tulisan yang menggantung tinggi di atas sebuah pintu besar, "STASIUN KEBUMEN"... 
Ahh,, lega sekali rasanya. Aku segera mengemas barang-barangku dan segera turun dari kereta. Aku merasakan belaian angin kian memadati lekuk jilbabku. Aku menarik nafas panjang, merasakan kesejukan kota yang sudah lama ku tinggalkan.

teliteetuuutttt.......
Ponsel'q berbunyi, ada satu pesan masuk disana. segera kubuka , ternyata dari elangku.. laki-laki tertinggi yang ku tinggalkan di kota ini, lelaki dengan sinar mata tegas dan tajam bagai mata elang yang ku janjikan cinta sebelum ku pergi dulu..
"Dimana sayang? " pesanmu singkat,
belum sempat ku balas pesanmu dari jauh ku lihat sosokmu di antara puluhan orang di gerbang STASIUN.

Tanpa pikir panjang aku berlari ke arahmu, kau menyadari kehadiranku. Aku pun mengurangi kecepatan langkahku, mencoba menikmati senyummu dari jauh. Dan merasakan hati yang bergejolak hebat saat ku lihat kembali tatapanmu, Aku sudah hampir sampai di tempatmu berdiri. Hatiku semakin berdegup kencang, Mataku mulai nanar, menatapmu sendu bercampur bahagia. Airmata kerinduan tertumpah ketika kau sudah tepat dihadapanku.. 
Kau kembali tersenyum, menatapku dengan tajam. Aku tau kau sedang mencari gurat rindu di setiap lekuk wajahku... 
Kita bertatapan lama, tanpa saling menyapa. Ku lihat matamu berkaca, dan aku sangat bahagia melihat diriku ada disana.

"Selamat datang cinta..Selamat datang kembali di kota kita.."
Aku tersenyum mendengar ucapmu. 
tak tau apa yang harus ku katakan..
yang pasti....
"Aku merindukanmu, dan aku bahagia kini kau ada di depanku".


Aku takut Jatuh Cinta


Ya Allah......
Ini hamba-Mu yang penuh dosa,
datang mengetuk pintu-Mu untuk mengadu,
Betapa hinanya hamba yang hanya bisa mengeluh dan mengeluh pada-Mu..

Ya Rabb,
Saat ini hatiku begitu kalut,
secara tiba-tiba aku teringat sosok hamba-Mu 
yang datang sempurna dalam hari-hariku
Sosok yang menggetarkan hatiku, dan menumbuhkan benih cinta di hati ini.

Wahai Penguasa hatiku..
Aku tidak pernah ingin menghianati-Mu,
cinta kepada makhluk-Mu hanya membuat aku jauh dari-Mu,
maka bantulah hamba,
Untuk menampik rasa ini. 
Gantikanlah dengan rasa cinta yang hanya pada-Mu.
Aku takut jatuh cinta.....


"Di kedalaman hatiku tersembunyi harapan yang suci
Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat keshalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata



Sungguh walau kukelu tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan

Kalau memang kau pilihkan aku

Tunggu sampai aku datang nanti

Kubawa kau pergi kesyurga abadi


Kini belumlah saatnya aku membalas cintamu
Nantikanku di batas waktu





Jumat, Januari 21, 2011

Gerimis Bersamamu

Dan saat gerimis itu turun, kita berteduh di bawah pohon cerry yang melambai di kelokan yang menjadi awal ke galauanku akan cintamu.
Aku tiba-tiba bertanya, "Kenapa gerimis datang saat matahari sedang senyum sumringah begini". Kau menjawab, tapi ku tahu itu jawaban sekenanya saja " Karna gerimis ingin kita berteduh dan menikmati kebersamaan lebih lama di hari ini". hahaa.. aku tertawa, meski hatiku mengiyakan argumen ngawuranmu. Hari itu seperti biasa kau menawarkan diri menjadi ojek  yang mengantarku pulang kuliah. Cuaca sebelumnya cerah, tapi sampai di parkiran mendadak gerimis turun.

Kita masih di bawah payung sebuah pohon cerry. Menunggu gerimis reda. Kau  dan aku tak ingin menyeberangi titik-titik air itu. Kau ingin berteduh dan menunggu. Menghitung gerimis yang malas. Atau angin yang benar-benar nyaris diam. 

Kini kulihat matamu mengembara, entah kepada kenang atau harapan, namun aku tak terletak di sana. Entah di mana aku siang itu pada dirimu. Kau menyandarkan tubuh pada batang pohon yang mulai lembab. Menggenggam pemantik dan memainkan percikan air.  Seperti ada sesuatu yang ingin kau  siram. Tapi entah apa.. Tiba-tiba kau menoleh, tersenyum. Aku melihat matamu meneduh, tapi masih belum ku temukan aku disana.

"Dingin?" tanyamu saat itu
"Engga, gerah banget malah... " Jawabku sedikit sewot,,
Kau meringis, dan melepas jaket abu-abumu dan menyerahkan padaku.
"pakai ini, kebiasaan sih. musim dingin tu bawa jaket"..
hmm.. Aku bergumam sambil menarik jaket itu dan mengenakannya di tubuhku. Ada sedikit kehangatan, maklum jaketmu kedodoran untuk ukuran tubuh mungilku.. 

 "Kau sepertinya merindukan sesuatu" pertanyaanku mengagetkanmu yang sedari tadi kembali memainkan percikan air gerimis.
Kau menoleh, menatapku dan terdiam. Aku beranikan diri membalas tatapanmu, kita saling tatap dalam keheningan diantara rinai gerimis siang itu..
" Sudahlah. Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita kali ini. Mungkin lebih pekat, karena tempat ini menyimpan beragam kenangan bagiku.” Kau berusaha tersenyum seperti ingin menyudahi percakapan dan kembali sama-sama hening dan sunyi.

Akhirnya gerimispun tinggal jejaknya, ”Kenangan apa?” ucapku sembari menarik lengan kemejamu. Aku tak ubahnya seperti anak manja yang merengek meminta jawaban atas pertanyaan kalut dihatiku. Iya, pertanyaan yang hadir sejak kau katakan kau memiliki banyak kenangan di tempat ini.

"Kenangan tentang sajak dari merpati yang melukai sayapnya untukku" kau pun menjawab sembari mengajakku untuk segera beranjak, karena gerimis tak lagi hadir.

Aku terpaksa beranjak dan mengikuti langkahmu. Meski masih banyak pertanyaan yang belum mendapat jawaban pasti. Aku bertanya2, dan aku menjawab sendiri. Mungkin kau tau gundahku saat itu. Kau menggandeng tanganku dan berkata.
"Kenangan itu mungkin menyala, tapi hari bersamamu sinarnya lebih terang. Kau yang ku genggam saat ini, maafkan aku untuk sekelebat rindu yang tadi hadir bukan untukmu".

Aku menghela nafas panjang, Ku biarkan cemburu yang memburu ini hilang. Tapi tetap saja sulit, aku hanya wanita yang tidak ingin berbagi meski hanya dengan sepotong kenangan.

Kau mengajakku mengenali gerimis siang ini, dan kau juga menghadirkan gerimis luka di hatiku.
 Karna bukan hanya aku yang ada di teduh sinar indah matamu.

Minggu, Januari 16, 2011

Januari 
yang sempat kunanti, sudah terlewat setengahnya.
Ahh.. Januari..
Maafkan aku karna ku ingin kau segera pergi...

Dan..........

Februari..............
Aku menantimu, aku sangat menantimu.
Kau yang akan menjadi saksi,
bertemunya kembali dua hati yang sekian lama berjauhan..

Ku istimewakan kau Februari....

2 tahun lalu

Ini cerita 2 tahun lalu, sejak Kau tersenyum padaku. Tanpa kutahu artinya. Tapi kutemukan diriku dalam senyum itu.
"Andai saja malam itu kau tak menghadiahiku senyuman, mungkin saat ini hariku akan biasa saja"

Aku mengirim seluruh rindu dari hutan hatiku untuk bersarang di setiap ruang hatimu, telah kususupkan seluruh cinta pada senyummu, telah kau dengar seluruhnya, sajak-sajakku kembali hidup. Di tanah lapang itu kusimpan seluruhnya, kata dan kalimat, cinta dan perjalanan. Telah kau reguk seluruh isinya. Kini kata-kata kembali mengalir dengan dirimu berdenyut di sajakku.” 

Kau berbicara dengan tenang dan pelan."Aku mencintaimu" bisikmu malam itu. Aku perlahan melayang dalam kata-katamu. Meninggalkan resah dengan sesuatu yang tak terkatakan. 

Ku tatap matamu lekat-lekat. Aku mencarinya, mungkin ada kebohongan di matamu. Tapi aku gagal, aku tidak menemukannya. Hanya sebuah pengharapan akan balasan cinta disana, aku ragu... Ku tau, kau mengerti keraguanku. Mungkin disini juga ada cinta, tapi saat itu kau tau disini pula telah tertanam cinta yang lain.
Kau berbalik menatapku, meyakinkanku! Meski tanpa kau ucap, aku yakin betul makna dari tatapanmu adalah kau ingin katakan bahwa cintamu lebih baik dari cintanya. Ahhh.. lagi-lagi aku menjadi seorang pembaca ngawuran sebuah tatapan.

Kau terdiam, hening... 
"Jika kau menginginkanku, kaitkan kelingking kananmu di kelingkingku. Tapi jika tidak, kaitkan kelingkingmu yang sebelah kiri".
Rupanya kau belum menyerah, kau menutup mata sambil berdebaran menanti kelingking mana yang akan ku pakai. Sebenarnya sampai saat ini aku masih belum tau kenapa kau memilih kelingking untuk meniadakan raguku.
Ahh tapi ku pikir itu tak penting, aku fokus melihat matamu terpejam, 
dan..............
Bismillah..
Ku kaitkan kelingking kananku, tanda aku membalas rasamu. Kau buka mata, dan kau kembali tersenyum.
"Terimakasih "..... katamu, dan aku mengangguk. Malam itu, 3 November 2008 kau dan aku sepakat untuk saling mencinta....

"Kau laki-laki yang datang dengan sempurna, menggetarkan setiap nadi yang ada di tubuhku. Sejak malam itu, hariku menjadi indah,bagai lukisan senja yang selama ini ku sukai. Terimakasih, ini sudah dua tahun sejak kau memilihku malam itu.. Dan aku bahagia, bisa menjadi senyummu. "

Apa siihh bingung dah

"Aku ingin menatapmu. Mencari-cari kerinduan di setiap lekuk garis wajahmu, serta dalam mata yang berhias sinar senja disana. Aku ingin menemuimu, menanyakan apa masih ada tempatku di hatimu. Sekali lagi, aku ingin bersamamu..."

Ahh.. aku tak berani menghitung, sudah berapa lama aku tak bertemu dengannya, "Laki-laki tertinggi yang pernah ku miliki, pemilik mata elang yang selalu tajam menatapku". Harus ku akui, sejak meninggalkannya dalam episode ini, banyak hari yang ku lewati dengan curiga curiga dan curiga.. Hoohh, sebenarnya tersiksa.. amat tersiksa!

*hey Januari..salahkah aku jika ingin kamu segera usai? ...
Aku ingin cepat pulang, menghantarkan rindu yang sudah jadi gunung es di hatiku. 

*Hey burung2.. kemarilah..
Aku titip pesan, sampaikan pada laki-laki harum gitar itu, "aku sangat merindukannya"


”Doa adalah penyatuan dengan-Nya. Sedang denganku akan utuh dengan sajak-sajakmu. Aku merindukan kata-katamu, terlebih jika diriku terdapat di dalamnya. Jangan membuat sajak untukku. Sebab itu hanya akan membuatmu kehilangan kata-kata. Jadikan aku kata-kata dalam sajakmu. Mungkin kau akan kembali menulis. Karena aku pun begitu.”


Minggu, Januari 09, 2011

Senjaku, malamku, gerimisku, itu kamu...



Sepertinya secara tidak sengaja, aku menganggapmu sebagai senja..
Dan terkadang ku jadikan kau sebagai malam,
serta tak jarang kau menjelma bagai gerimis..

Semua karna aku adalah penatap senja, penikmat malam, serta pecinta gerimis..
Semoga kau mengerti maksudku..
Cinta dalam diamku,
sudah ku beberkan pada pena merah muda itu..
Dengan pena, akan ku lukiskan keindahan senja di matamu,
ketenangan malam di hatimu,
kelembutan gerimis di setiap derai tawamu..
Dan melalui pena, akan ku taklukan setiap acuhmu..


Jika cinta bukan untukku, akan ku kejar hingga ia menjadi milikku. Kau salah satu cita-cita yang sangat ingin ku wujudkan.. "Laki-laki semburat fajar", ada mata pelangi yang menanti hadirmu.. Tatapanmu sempat menggetarkan hatiku, meski kemudian tertahan sejak kau memutuskan diam!. 



Kau tak Membalasnya,,


Memandang gerimis, saat senja di penantian. Aku menyukai senja, aku menyukai gerimis, begitu juga aku menyukaimu..

Laki-laki dengan sinar mata teduh di matamu, sampai hari ini aku belum mengerti hatimu. Saat dekat kau begitu memperhatikanku, tapi saat jauh kau sama sekali tidak peduli..

Ya sudahh, dengarkan saja. Aku merindukanmu, iya, aku merindukanmu. titik!

Sabtu, Januari 08, 2011

Nasehat Seorang Sahabat


Sahabatku...            
Janganlah kau cemberut saat merasa sedih, karena kau tidak tahu kapan seseorang suka pada senyummu. Mungkin bagi dunia kau hanyalah seseorang. Tapi bagi seseorang, mungkin kau adalah dunia. Maka nikmatilah rasa sedihmu, dengan berfikir positif dan memanfaatkan apa yang kau miliki dengan lebih baik lagi agar besok menjadi sesuatu yang berguna dan lebih berarti.


Sahabatku...
Jika sampai saat ini kau masih sendiri, menjadi manusia paling sepi, janganlah kau merasa terpuruk dan rendah diri. Lihatlah, bukankah jari-jemarimu dipisahkan oleh sela-sela kosong? Ya, karena Tuhan tahu, bahwa suatu saat pasti akan ada yang mengisi kekosongan itu, menggenggam erat jemarimu dan berkata : "Aku akan selalu menjagamu dan akan selalu ada untukmu..."

Sahabatku...
Tuhan terlalu bijak, sehingga Ia menciptakan seorang sahabat tanpa harga sepeser pun. Karena jika Tuhan mematok harga, sungguh, aku takkan pernah sanggup membeli sahabat berharga seperti dirimu. Di dunia ini tak ada sesuatu
yang sempurna, termasuk juga sahabatmu. Maka seburuk dan sebenci apa pun kau pada seseorang, berusahalah untuk meredamnya, lalu menasehatinya, karena bisa jadi saat sudah kau lepaskan, penyesalanmu menjadi sesuatu yang sia-sia. Ternyata begitu banyak kebaikan yang tidak kau lihat sebelumnya. Ternyata begitu banyak keindahan yang terlewat dan tak sempat kau nikmati bersamanya.

 
Sahabatku...
Setiap awal membuka mata, bersyukur adalah hal pertama yang harus kau lakukan, atas kehidupan yang telah memberikan kesempatan, atas keberadaan senyum dan semangat dari orang-orang yang menyayangi dan kau sayangi, serta atas keyakinan bahwa rentetan hari akan menjadi hari yang menakjubkan. Percayalah, hidup ini indah jika kita tahu bagaimana cara menjalaninya.

Sahabatku...
Tak ada yang lebih merindukan kita setulus kematian. Kita tidak bisa menjamin, 1 kali 24 jam setelah membaca goresan tak berarti ini, kita masih bisa bernafas. Maka Rasul pun bersabda : "Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu oleh keduanya: kesehatan dan kesempatan". Selagi masih ada kesempatan dan kesehatan, berbuatlah, karena sekecil apapun yang kau yakini kebenaranya, ia akan tetap memiliki makna.

Sahabatku...
Konon, hidup ini cuma sesaat, maka jadikan ia lebih bermanfaat. Jika air mata adalah beban, jadikan senyum sebagai penawarnya. Jangan katakan apa yang kau ketahui, tapi ketahuilah apa yang kau katakan. Orang seringkali menilai dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka ketahui. Jadikan dirimu senyuman bagi sesama dan buatlah mereka selalu bahagia bila bersamamu...
.

Sumber : 
http://www.buletinsunrise.co.cc

Kamis, Januari 06, 2011

Entahlah...

Ketika akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, dan sebuah perpisahan akan menjadi pertemuan dengan sesuatu yang baru.

Bukan hati ini tak sakit, bukan hati ini tak hancur, bukan juga aku tidak peduli akan diammu, ini hanya sebuah kepasrahan hati yang tumbuh atas dorongan rasa ingin membuatmu bahagia. Kau pun tau, ruang memisahkan cinta kita. Aku sungguh paham bagaiman hatimu disana, sepi, sendiri, hampa tiada cinta.. Sebab itu juga yang ku rasakan.

Sayang, sebelum ini kita begitu yakin akan kemampuan kita bertahan. Tapi begitu banyak sandungan yang melengkapi lika liku perjalanan cinta kita. Jujur aku mulai ragu, ragu apakah kita mampu bertahan. Kau tahu aku begitu menyayangimu, dan karna rasa itu pula hatiku terdorong untuk membebaskanmu dari hubungan yang ku tahu membosankan ini. Hubungan jarak jauh yang banyak menyita waktu dan hati kita.

Aku pun pasti akan merindukan saat-saat di mana diriku masih bisa berlindung di balik cintamu yang megah ini, ketika kelak aku harus berjuang sendiri, dengan tanggung jawabku sendiri. Sayang, diammu saat ini sungguh menyiksaku. Kau membuatku sakit ketika kau tak peduli dengan hari ulang tahun ku, hari spesial ku.. " kau tak ada.. kau masih dalam kemarahanmu." Sungguh, hal itu membuatku berpikir, benarkah ada cinta untukku?. Jika benar, mengapa tak sedikitpun kau berikan cintamu di hari itu, dimana cintamu saat itu? diamana kamu saat aku lelah menanti satu kata darimu, iyaaaa... hanya di hari itu. dan ku tahu , kau pasti mengerti bagaimana rasanya di cuekin pada hari spesial.

Kini biarlah kisah ini mengakir sini, keyakinanku tetap sama. Cinta akan tahu jalan pulang, Jika memang kau untukku, ku yakin kau kan hadir lagi menemaniku. Silahkan nikmati diammu saat ini, akupun akan menikmati keceriaan yang kubangun di atas hati yang rapuh ini..


Di Kedai Kopi, Semuanya Aneh

"Aku menemukannya, di antara gerimis luka yang mengguyur hatiku. Kurasa dia datang sebagai mentari, yang malu-malu bersinar saat gerimis itu turun.. Tapi meski malu-malu, dia berhasil menciptakan kembali Pelangi di senjaku yang mulai muram, memekarkan kembali hatiku yang hampir layu.... Tatapannya, mendorongku untuk mencari tau makna yang tersirat disana. Dan akupun harus jujur, "Aku menyukai matanya"

Sebenarnya aku tidak cukup tahu, apakah dia mengenalku sebagai perempuan yang mengaguminya atau tidak. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Ruang-ruang waktu telah memberi kami jeda dalam diam yang berkepanjangan.Matanya masih memancarkan sinar lembut yang meneduhkan, meski sampai saat ini aku belum mengerti arti tatapannya..

Dia duduk tepat di sampingku. Kedai itu sebenarnya tidak sepi, kami berada disana dengan kawan yang lain. Tapi entahlah, kedai seakan milik berdua, temanku ku anggap rumput yang melambai-lambai mengiringi keindahan senja di hatiku dan hatinya.
"Aku punya ini untukmu", dia membuka pembicaraan.
Aku menoleh perlahan ke arahnya, reaksi pertama tersenyum simpul. Setelah melihat apa yang di bawa, wajahku sumringah..
"Waaa... lucunyaa..." Sebuah boneka Little kitty ada di tangannya, aku bersorak kegirangan..
Rupanya dia memperhatikan keceriaanku, dia tersenyum sambil melirik ke arah rumpu-rumput yang sedang asyik memahami pembicaraan kami.. Sesekali ku dengar mereka terbahak melihat kekonyolan kami, Ahhh.. rumput yang aneh, pikirku;)

"Mengapa kau menatapku seperti itu? Sadarkah kau tatapanmu mebuatku mati gaya, apa yang ada disana?? Benarkah ada rasa berbeda yang ingin kau bagi denganku, bukan sekedar boneka little Kitty yang kau beri dikedai yang banyak rumput-rumput aneh ini?

Ahh, tapi ku rasa pertanyaan itu terlalu terburu-buru. Kucatat pertanyaanku itu di dalam hatiku saja. Aku benar-benar takut untuk bersuara terhadapnya. Cahaya matanya mulai menyilaukanku. Kami benar-benar terdiam dalam sepi yang berpesta dalam ruangan itu. Yah, meski sii rumput-rumput aneh itu masih saja menggodai kebisuan kami..

Lelaki dengan mata bercahaya teduh itu bergeser sedikit ke arahku, tiba-tiba dipalingkanwajahnya tepat di samping telingaku. Aku berbisik pada hatiku " Jangan menoleh, dia sedang begitu dekat". Benar saja, tiba-tiba tangannya mulai mendekat ke arahku, tepat di depanku. Secangkir kopi di hadapanku, di raih perlahan olehnya. Hahahaaa.. Aku tertawa terbahak menyembunyikan jengahku, diapun melirik sambil menjulurkan lidahnya, Wleeeeee... :P. Dan aku semakin terlarut dalam keanehan di kedai itu.

Aku benar-benar ingin dia selalu merinduiku. Meski untuk sebuah rindu yang entah. Mungkin aku telah melanggar aturan, karena hatiku sebenarnya masih terikat satu cinta resmi yang meski sudah tak berstempel kata bahagia. Tapi laki-laki dengan sinar teduh di matanya terus menatapku, meski lagi-lagi aku belum bisa membaca pesan di matanya.

Tapi aku bahagia hari ini...
"Teman-temanku, maaf jika disini ku sebut kalian rumput yang aneh.. haha, jangan marah ya..


”Aku menemukanmu pada sebuah ruang bernama sepi, kamu terus aku cari dan aku bahagia akhirnya aku menemukan sosok sepertimu
Mungkin kita bertemu di waktu yang tepat. Tapi kurasa di saat yang salah. Karna aku masih mencoba konsisten dengan cinta lamaku yang meski menghadirkan banyak leluka.


Minggu, Januari 02, 2011

Ijinkan Ku Membencimu, dengan Caraku

"Aku tau engkau lelah, menahan mumet yang sangat parah. Ahh,tapi biarlah... Siapa suruh kau berulah!!."

Kembali aku melihat kepenatan di matanya pagi ini, mungkin dia menanggung beban yang teramat berat, mungkin juga dia sedang mengalami kepiluan.. Kepiluan yang ku yakin atas perbuataanya sendiri.
Sebenarnya aku penasaran dengan cara hidupnya, apa dia bangga bisa menjadi manusia super dzalim terhadap orang lain? bahkan untuk dirinya sendiri. Aku pun ingin tahu akan jalan pikirannya, apakah tak sedikitpun dia memikirkan hati kami?. 

Meski kau sebenarnya adalah orang yang harus ku hormati, tapi maaf.. Ada sedikit pemberitahuan untukmu. Seseorang yang lebih berwenang atas hidupku telah memberiku ijin untuk membencimu, "maka ijinkan aku, membencimu dengan caraku". 

"Bila nanti senjamu telah muram, datang malam yang gelap, dimana kau sulit untuk melihat. Dimana matamu sudah dipenuhi kelapukan yang memilukan, dan kedzalimanmu saat ini berbuah derita disaat nanti.. Aku harap kau siap dengan keadaan itu. Jangan mengharap kebaikan dari hati kami.. karna tak akan kau temukan sedikitpun disana"

  Untuk air mata  yang harus menetes karna ulahmu,
  Untuk perih yang kami rasakan karna ketidakpedulianmu
  Untuk pahit yang kami telan karna kedzalimanmu,
  Serta untuk setiap rintihan lirih sampai jerit yang mencekat dari bilik hati kami

  "IZINKAN AKU MEMINTA KEPADA TUHANKU : 
Ya Rabb,,, karna Kau tak mengijinkan kami saling membenci, Ku mohon bencilah dia dengan cara-MU. Peringatan kami tak pernah di dengarnya, maka biar peringatan-Mu saja yang menghukumnya.. "

Sabtu, Januari 01, 2011

Judulnya Mungkin Dilema....

"Lebih baik bertahan dengan orang lama yang saat ini kurang menaruh perhatian padaku,
daripada harus menerima orang baru yang terlihat lebih perhatian.
Belum tentu yang baru lebih baik dari yang lama"


Kalimat tersebut aku temukan di diary'ku yang ku tulis beberapa bulan yang lalu. Keyakinanku akan kalimat yang ku tulis itu awalnya sangatlah kuat. Aku begitu yakin untuk tetap mempertahankan cinta lamaku (meskipun tak seindah dulu), daripada harus menerima cinta yang baru.

Lagi-lagi itu terjadi terjadi beberapa bulan yang lalu.
Tapi kali ini, keteguhanku untuk mempertahankan apa yang aku tulis sebelumnya mulai teruji. Sejak aku menemukan sinar baru dari mata laki-laki semburat fajar, sejak senyumku dan senyumnya menyatu dalam tatapan yang masih malu-malu.

"Benarkah aku jatuh cinta??"
Ahh.. pertanyaan itu terlalu terburu-buru. Aku dan hatiku masih menyerukan satu kata.. SETIA...
"Untukmu sayang, maaf jika ada selingkuh di cinta kita. Meski sampai saat ini, perselingkuhan itu tidak pernah terwujud nyata. Aku dan hatiku, masih untukmu dan untuk hatimu.."