Tragis sekali judulnya.. hehe tapi itu yang baru aku sadari. Betapa cinta dan obsesi memilikimu menjadikan aku super bodoh. Hmm... bodoh atau menjadi lebih kebal dengan rasa sakit tepatnya.
Aku jatuh cinta pada laki-laki sempurna sekitar 4tahun lalu. Aku berpikir aku harus mendapatkannya dengan cara apapun. Tanpa malu aku mendekatinya, dengan jurus a sampai z tidak ada yang ketinggalan. Sampai singkatnya aku benar benar bisa mendapatkannya. Dia menjadi milikku, kami mulai menjalin hubungan pada tahun 2008. Betapa segala cinta yang ku punya langsung ku serahkan semuanya untuknya. Tidak ada yang ku sisakan untuk mencintai diriku sendiri. Aku menganggap dia segalanya, segalanya.. Meskipun pada akhirnya aku sadar, bahwa aku tidak pernah menjadi siapa siapa di hatinya. Tentunya aku sakit hati mengetahui itu, tapi aku sudah terlalu mencintainya.. (lebay).
Pernah sekali dia mengatakan, bahwasanya aku tak pernah ada dalam mimpinya. Sama sekali tidak pernah, bahkan justru mereka yang selalu ada. Wanita yang menjadi khayalannya sejak lama, da wanita yang hampir menjadi kekasihnya saat itu. Lucunya aku malah tersenyum mendengar dia mengatakan itu, sambil sedikit menean kekecewaan. Oh bukan sedikit, tapi begitu besar kekecewaan yang ku telan. Aku tidak kapok juga, aku terus saja bertahan.. bahkan saat itu aku ingin bertahan mencintainya sampai aku babak belur sendiri.
Setahun telah berlalu, hubungan kami masih berjalan dan mungkin sudah lebih baik. Tapi di saat itu justru alasan masa depan memisahkan aku dengan dia. Sempat berhenti berharap, sempat ga mau mencintainya lagi karena aku pikir "masih dekat aja aku tidak bisa ada di hatinya apalagi kalau aku jauh..." Tapi cinta tetaplah cinta, tetap menggebu walaupun jarak memisahkan.
Aku terus mencintainya, memberikan perhatian lebih kepadanya, karna aku sadar saat itu posisinya aku yang lebih dulu meninggalkannnya untuk mengejar cita-citaku. Aku sabar menghadapinya, jauh lebih sabar daripada saat aku dekat dengannya. Setiap detik merindukannya, menanyakan kabarnya, walaupun seringnya yang aku dapat hanya pengabaian darinya.
Aku tidak pernah berpikir untuk menyerah, bahkan aku semakin ingin bertahan. Walaupun selama 2 tahun masa pacaran dia sering mempermainkan hubungan yang katanya membosankan itu. Sebentar minta putus, sebentar minta balik. teruss seperti itu,dan bosohnya lagi aku terus mengikuti permainannya. Aku tidak bisa merasakan sakit saat itu.
Sampai puncaknya pada ulang tahunku yang ke 20 dia justru mengakhiri hubungan kami. Itu mungkin sudah sampai dimana lelahku bertahan. Aku menyerah, aku kalah.. aku tidak bisa memaksa orang mencintaiku. Aku tidak mau lagi dianggap bukan siapa-siapa oleh orang yang ku anggap segalanya.
Kemudian aku bertemu dengan sosok laki-laki lain yang sangat baik dan begitu mencintaiku. Aku merasa diberi kesempatan merasakan indahnya dicintai sepenuh hati. Senangnya di anggap segalanya olehnya, dia begitu menghormati ku sebagai wanita. Bak putri raja dia memperlakukan aku. Bahkan aku merasa bisa menjadi diriku sendiri, dia memberiku kebebasan mengekspresikan seperti apaa sebenarnya aku. Aku merasa dia mencintai apa adanya aku, bukan menyuruhku menjadi sosok yang disukai kemudian baru dia mencintaiku. Aku pikir aku bisa mencintainya setelah apa yang dia lakukan untukku. Tapi ternyata cinta itu tidak bisa dipikir dengan logika... tapi hati.. Aku menyakitinya, meninggalkannya dan memilih untuk kembali ke cinta laki laki yang dulu ku anggap paling sempurna.
Aku kembali bersama laki-laki yang ku sebut senja, laki-laki yang paling indah yang ku anggap segalanya. Dia berubah, sangat berubah. Aku mulai di bawa masuk ke dalam mimpi-mimpinya. Dia mencintaiku, dan memperlakukan aku selayaknya wanita yang dicintainya. Semoga aku tidak mengulangi kebodohanku..