Aku selalu ingat ketika aku berjanji padamu, selama hidupmu, apapun akan ku lakukan untuk suatu senyuman, sebisa ku.. hingga matiku.
Tapi apakah itu untuk selamanya?
Sementara keadaan telah berubah 180 derajat. Kau disana pasti mengira bahwa kita masih baik-baik saja. Tidak bii, kita tidak baik-baik saja. Tepatnya adalah karena aku yang tidak lagi mampu menjaga konsistensi janjiku. Aku yang merusaknya, dan aku masih terlalu pengecut untuk mengakuinya langsung kepadamu. Alasan pertamaku adalah aku sangat takut kehilanganmu.. sebab sebagian besar hatiku masih menyimpan cinta untukmu. cinta yang tak pernah mampu ku katakan pada mereka, cinta yang hanya bisa ku tahan sendiri. Alasan keduaku adalah karena aku takut melihatmu hancur. aku tidak sanggup untuk itu. Tapi bagaimana lagi, aku sudah terlanjur masuk ke zona yang salah. Aku tidak menemukan jalan keluar untuk itu.
Kau tau, ambisi dan cita-citaku yang segunung itu yag membuatku tersesat.. Tapi aku masih belum sepenuhnya sadar bahwa aku telah tersesat dan terlalu jauh menghianatimu. Kau tau, aku merasa kita tidak memiliki masa depan, aku dan cita-citaku ada disini.. bukan disana, di tempat kau ada sekarang. Memang semua Tuhan yang menentukan, tapi akupun berhak merencanakan. Karena kau pun tau bagaimana jadinya jika hidup tanpa rencana.
Aku memang pecundang yang sembunyi di balik segudang alasan itu, tapi sungguh... hatiku masih sama seperti hati wanita lain yang mungkin lebih suci dan jauh dari berkhianat. Aku masih bisa merasakan sakit untuk semua yang aku lakukan, terlebih jika aku membayangkan bagaimana hatimu saat ini. :'( , aku masih diam-diam menangis untuk itu...
MAAFKAN AKUUUUUUUUUU...............
0 komentar:
Posting Komentar