Aku tersinggung ketika kamu mengatakan dialah masalah kita. Ada rasa tidak terima dalam hatiku. Bahkan aku sangat ingin memakimu sore itu, kenapa harus dia yang kau jadikan kambing hitam atas pertengkaran kita? bahkan atas sakit hati yang telah mampu mengalirkan sungai di matamu sore itu. Mengapa tak kau persalahkan saja aku!! Ya.. karna memang aku penyebab rumitnya kisah ini. Aku yang salah, karna tak pernah mampu memposisikan hatiku untuk benar-benar berdiri di hatimu, atau hatinya. Dan memang harus ku akui, meski kau dan aku begitu dekat (bahkan tak berjarak), tapi jauh di dalam ruang-ruang hatiku yang lain masih penuh sesak oleh cintanya. Cintanya yang tak pernah bisa di hapuskan oleh siapapun, termasuk kau...
Maafkan aku jika aku keliru menuangkan satu-persatu bahasa hatiku disini. Jika aku melukaimu lewat tulisan ini, dan jika lagi-lagi aku membuatmu merasa tersakiti olehku. Akupun merasa amat sangat terluka oleh sikapmu sore itu. Andai saja Aku di ijinkan mengerti kemauanmu, pastilah aku rela kau memintaku tak menghubunginya lagi. Tapi apa kau tau, permintaanmu sangat menyakitiku. Kau membunuhku perlahan...
Memang, sore itu aku menyanggupi dan bahkan berjanji untuk tak lagi berhubungan dengannya. Tapi apa kau tau, hatiku menjerit , sakiitttt.. Kenapa kau memaksaku, apa keegoisanmu memilikiku seutuhnya yang membuatmu berubah seperti ini.
Aku tidak setuju jika kau menyebut dia masalah untuk kita, aku amat tidak rela kau menyebutnya seperti itu. Karna memang semua bukan salahnya, semua salahku. Bahkan dalam hal ini, sebenarnya dialah yang paling terlua. Kau memang belum memahami keadaan yang sebenarnya, antara aku dan dia. Karna kau datang di saat aku masih bersamanya. Lalu pantaskah dia kau sebut masalah????????????
0 komentar:
Posting Komentar