"Andai saja malam itu kau tak menghadiahiku senyuman, mungkin saat ini hariku akan biasa saja"
Aku mengirim seluruh rindu dari hutan hatiku untuk bersarang di setiap ruang hatimu, telah kususupkan seluruh cinta pada senyummu, telah kau dengar seluruhnya, sajak-sajakku kembali hidup. Di tanah lapang itu kusimpan seluruhnya, kata dan kalimat, cinta dan perjalanan. Telah kau reguk seluruh isinya. Kini kata-kata kembali mengalir dengan dirimu berdenyut di sajakku.”
Kau berbicara dengan tenang dan pelan."Aku mencintaimu" bisikmu malam itu. Aku perlahan melayang dalam kata-katamu. Meninggalkan resah dengan sesuatu yang tak terkatakan.
Ku tatap matamu lekat-lekat. Aku mencarinya, mungkin ada kebohongan di matamu. Tapi aku gagal, aku tidak menemukannya. Hanya sebuah pengharapan akan balasan cinta disana, aku ragu... Ku tau, kau mengerti keraguanku. Mungkin disini juga ada cinta, tapi saat itu kau tau disini pula telah tertanam cinta yang lain.
Kau berbalik menatapku, meyakinkanku! Meski tanpa kau ucap, aku yakin betul makna dari tatapanmu adalah kau ingin katakan bahwa cintamu lebih baik dari cintanya. Ahhh.. lagi-lagi aku menjadi seorang pembaca ngawuran sebuah tatapan.
Kau terdiam, hening...
"Jika kau menginginkanku, kaitkan kelingking kananmu di kelingkingku. Tapi jika tidak, kaitkan kelingkingmu yang sebelah kiri".
Rupanya kau belum menyerah, kau menutup mata sambil berdebaran menanti kelingking mana yang akan ku pakai. Sebenarnya sampai saat ini aku masih belum tau kenapa kau memilih kelingking untuk meniadakan raguku.
Ahh tapi ku pikir itu tak penting, aku fokus melihat matamu terpejam,
dan..............
Bismillah..
Ku kaitkan kelingking kananku, tanda aku membalas rasamu. Kau buka mata, dan kau kembali tersenyum.
"Terimakasih "..... katamu, dan aku mengangguk. Malam itu, 3 November 2008 kau dan aku sepakat untuk saling mencinta....
0 komentar:
Posting Komentar