Apa yang terjadi dengan hatiku, secepat kilat merenda butir-butir luka dari masa lalu. Semuanya berawal sejak ku temukan lagi jejak namamu yang memudar. Aku tak sengaja membuka catatan lama, dan menemukan dirimu dalam ejaan kata yang dulu sempat ku susun menjadi bahasa cinta.
Sepertinya masih jauh tanda-tanda jatuhnya setetes air di kelopak mataku. Tapi aku merasakan bahwa air mata itu ada, tersimpan di bagian tubuhku yang tak dapat kusentuh. Bahkan air mata itu ku titipkan pada batu tempat ku merebah sore itu, dan pada dedaunan sebagai pelindung tubuhku.
Aku sempat terluka, meski tak begitu menganga. Aku sakit, menyaksikan kembali drama penghianatan yang dulu sempat kau mainkan di atas cinta yg ku bangun dengan kepayahan. Ini sudah 4 tahun semenjak kau memilih pergi, tapi luka itu masih ada.
Ahhhh... Tidak! Aku tak pernah tersiksa dalam kesedihan. Justru dengan sedih itu aku merasa manisnya hidupan. Andai kau tahu makna kesedihan, mungkin tak cuma air mata yang kau harapkan, melainkan seluruh luka yang telah kau gores di tubuhku ini.
Langkah ini akan terus menapaki jalan tanpa henti, tanpa menoleh padamu. Oh, sedikit pun rasa ibaku tidak untukmu.
Dan di sini, di tempat yang tak pernah kau ketahui, aku petik damai keabadian. Selamat tinggal, . Aku tak ingin lagi di hantui olehmu, atau sekedar berpikir tentangmu. Cari sendiri dirimu. Dirimu tak ada dalam dirimu, jua tak ada di diriku, apalagi ada di hatiku yang kau lumat itu.
0 komentar:
Posting Komentar