Jumat, Januari 21, 2011

Gerimis Bersamamu

Dan saat gerimis itu turun, kita berteduh di bawah pohon cerry yang melambai di kelokan yang menjadi awal ke galauanku akan cintamu.
Aku tiba-tiba bertanya, "Kenapa gerimis datang saat matahari sedang senyum sumringah begini". Kau menjawab, tapi ku tahu itu jawaban sekenanya saja " Karna gerimis ingin kita berteduh dan menikmati kebersamaan lebih lama di hari ini". hahaa.. aku tertawa, meski hatiku mengiyakan argumen ngawuranmu. Hari itu seperti biasa kau menawarkan diri menjadi ojek  yang mengantarku pulang kuliah. Cuaca sebelumnya cerah, tapi sampai di parkiran mendadak gerimis turun.

Kita masih di bawah payung sebuah pohon cerry. Menunggu gerimis reda. Kau  dan aku tak ingin menyeberangi titik-titik air itu. Kau ingin berteduh dan menunggu. Menghitung gerimis yang malas. Atau angin yang benar-benar nyaris diam. 

Kini kulihat matamu mengembara, entah kepada kenang atau harapan, namun aku tak terletak di sana. Entah di mana aku siang itu pada dirimu. Kau menyandarkan tubuh pada batang pohon yang mulai lembab. Menggenggam pemantik dan memainkan percikan air.  Seperti ada sesuatu yang ingin kau  siram. Tapi entah apa.. Tiba-tiba kau menoleh, tersenyum. Aku melihat matamu meneduh, tapi masih belum ku temukan aku disana.

"Dingin?" tanyamu saat itu
"Engga, gerah banget malah... " Jawabku sedikit sewot,,
Kau meringis, dan melepas jaket abu-abumu dan menyerahkan padaku.
"pakai ini, kebiasaan sih. musim dingin tu bawa jaket"..
hmm.. Aku bergumam sambil menarik jaket itu dan mengenakannya di tubuhku. Ada sedikit kehangatan, maklum jaketmu kedodoran untuk ukuran tubuh mungilku.. 

 "Kau sepertinya merindukan sesuatu" pertanyaanku mengagetkanmu yang sedari tadi kembali memainkan percikan air gerimis.
Kau menoleh, menatapku dan terdiam. Aku beranikan diri membalas tatapanmu, kita saling tatap dalam keheningan diantara rinai gerimis siang itu..
" Sudahlah. Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita kali ini. Mungkin lebih pekat, karena tempat ini menyimpan beragam kenangan bagiku.” Kau berusaha tersenyum seperti ingin menyudahi percakapan dan kembali sama-sama hening dan sunyi.

Akhirnya gerimispun tinggal jejaknya, ”Kenangan apa?” ucapku sembari menarik lengan kemejamu. Aku tak ubahnya seperti anak manja yang merengek meminta jawaban atas pertanyaan kalut dihatiku. Iya, pertanyaan yang hadir sejak kau katakan kau memiliki banyak kenangan di tempat ini.

"Kenangan tentang sajak dari merpati yang melukai sayapnya untukku" kau pun menjawab sembari mengajakku untuk segera beranjak, karena gerimis tak lagi hadir.

Aku terpaksa beranjak dan mengikuti langkahmu. Meski masih banyak pertanyaan yang belum mendapat jawaban pasti. Aku bertanya2, dan aku menjawab sendiri. Mungkin kau tau gundahku saat itu. Kau menggandeng tanganku dan berkata.
"Kenangan itu mungkin menyala, tapi hari bersamamu sinarnya lebih terang. Kau yang ku genggam saat ini, maafkan aku untuk sekelebat rindu yang tadi hadir bukan untukmu".

Aku menghela nafas panjang, Ku biarkan cemburu yang memburu ini hilang. Tapi tetap saja sulit, aku hanya wanita yang tidak ingin berbagi meski hanya dengan sepotong kenangan.

Kau mengajakku mengenali gerimis siang ini, dan kau juga menghadirkan gerimis luka di hatiku.
 Karna bukan hanya aku yang ada di teduh sinar indah matamu.

0 komentar:

Posting Komentar