"Aku menemukannya, di antara gerimis luka yang mengguyur hatiku. Kurasa dia datang sebagai mentari, yang malu-malu bersinar saat gerimis itu turun.. Tapi meski malu-malu, dia berhasil menciptakan kembali Pelangi di senjaku yang mulai muram, memekarkan kembali hatiku yang hampir layu.... Tatapannya, mendorongku untuk mencari tau makna yang tersirat disana. Dan akupun harus jujur, "Aku menyukai matanya"
Sebenarnya aku tidak cukup tahu, apakah dia mengenalku sebagai perempuan yang mengaguminya atau tidak. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Ruang-ruang waktu telah memberi kami jeda dalam diam yang berkepanjangan.Matanya masih memancarkan sinar lembut yang meneduhkan, meski sampai saat ini aku belum mengerti arti tatapannya..
Dia duduk tepat di sampingku. Kedai itu sebenarnya tidak sepi, kami berada disana dengan kawan yang lain. Tapi entahlah, kedai seakan milik berdua, temanku ku anggap rumput yang melambai-lambai mengiringi keindahan senja di hatiku dan hatinya.
"Aku punya ini untukmu", dia membuka pembicaraan.
Aku menoleh perlahan ke arahnya, reaksi pertama tersenyum simpul. Setelah melihat apa yang di bawa, wajahku sumringah..
"Waaa... lucunyaa..." Sebuah boneka Little kitty ada di tangannya, aku bersorak kegirangan..
Rupanya dia memperhatikan keceriaanku, dia tersenyum sambil melirik ke arah rumpu-rumput yang sedang asyik memahami pembicaraan kami.. Sesekali ku dengar mereka terbahak melihat kekonyolan kami, Ahhh.. rumput yang aneh, pikirku. 
"Mengapa kau menatapku seperti itu? Sadarkah kau tatapanmu mebuatku mati gaya, apa yang ada disana?? Benarkah ada rasa berbeda yang ingin kau bagi denganku, bukan sekedar boneka little Kitty yang kau beri dikedai yang banyak rumput-rumput aneh ini?"
Ahh, tapi ku rasa pertanyaan itu terlalu terburu-buru. Kucatat pertanyaanku itu di dalam hatiku saja. Aku benar-benar takut untuk bersuara terhadapnya. Cahaya matanya mulai menyilaukanku. Kami benar-benar terdiam dalam sepi yang berpesta dalam ruangan itu. Yah, meski sii rumput-rumput aneh itu masih saja menggodai kebisuan kami..
Lelaki dengan mata bercahaya teduh itu bergeser sedikit ke arahku, tiba-tiba dipalingkanwajahnya tepat di samping telingaku. Aku berbisik pada hatiku " Jangan menoleh, dia sedang begitu dekat". Benar saja, tiba-tiba tangannya mulai mendekat ke arahku, tepat di depanku. Secangkir kopi di hadapanku, di raih perlahan olehnya. Hahahaaa.. Aku tertawa terbahak menyembunyikan jengahku, diapun melirik sambil menjulurkan lidahnya, Wleeeeee... :P. Dan aku semakin terlarut dalam keanehan di kedai itu.
Aku benar-benar ingin dia selalu merinduiku. Meski untuk sebuah rindu yang entah. Mungkin aku telah melanggar aturan, karena hatiku sebenarnya masih terikat satu cinta resmi yang meski sudah tak berstempel kata bahagia. Tapi laki-laki dengan sinar teduh di matanya terus menatapku, meski lagi-lagi aku belum bisa membaca pesan di matanya.
Tapi aku bahagia hari ini...
"Teman-temanku, maaf jika disini ku sebut kalian rumput yang aneh.. haha, jangan marah ya..
”Aku menemukanmu pada sebuah ruang bernama sepi, kamu terus aku cari dan aku bahagia akhirnya aku menemukan sosok sepertimu
Mungkin kita bertemu di waktu yang tepat. Tapi kurasa di saat yang salah. Karna aku masih mencoba konsisten dengan cinta lamaku yang meski menghadirkan banyak leluka.
2 komentar:
wkwkwkwkwk ada dude herlino,,,,,
hahaaa.. bagusssssss
Posting Komentar