"Aku tau engkau lelah, menahan mumet yang sangat parah. Ahh,tapi biarlah... Siapa suruh kau berulah!!."
Kembali aku melihat kepenatan di matanya pagi ini, mungkin dia menanggung beban yang teramat berat, mungkin juga dia sedang mengalami kepiluan.. Kepiluan yang ku yakin atas perbuataanya sendiri.
Sebenarnya aku penasaran dengan cara hidupnya, apa dia bangga bisa menjadi manusia super dzalim terhadap orang lain? bahkan untuk dirinya sendiri. Aku pun ingin tahu akan jalan pikirannya, apakah tak sedikitpun dia memikirkan hati kami?.
Meski kau sebenarnya adalah orang yang harus ku hormati, tapi maaf.. Ada sedikit pemberitahuan untukmu. Seseorang yang lebih berwenang atas hidupku telah memberiku ijin untuk membencimu, "maka ijinkan aku, membencimu dengan caraku".
"Bila nanti senjamu telah muram, datang malam yang gelap, dimana kau sulit untuk melihat. Dimana matamu sudah dipenuhi kelapukan yang memilukan, dan kedzalimanmu saat ini berbuah derita disaat nanti.. Aku harap kau siap dengan keadaan itu. Jangan mengharap kebaikan dari hati kami.. karna tak akan kau temukan sedikitpun disana"
Untuk air mata yang harus menetes karna ulahmu,
Untuk perih yang kami rasakan karna ketidakpedulianmu
Untuk pahit yang kami telan karna kedzalimanmu,
Serta untuk setiap rintihan lirih sampai jerit yang mencekat dari bilik hati kami
"IZINKAN AKU MEMINTA KEPADA TUHANKU :
Ya Rabb,,, karna Kau tak mengijinkan kami saling membenci, Ku mohon bencilah dia dengan cara-MU. Peringatan kami tak pernah di dengarnya, maka biar peringatan-Mu saja yang menghukumnya.. "
0 komentar:
Posting Komentar